Senin, 11 Februari 2013

                 ANCAMAN BESAR MASJIDIL AQSA SEPANJANG SEJARAH

Masjidil Aqsa yang terletak di perbatasan Israel dan palestina ini memang menjadi tempat yang disucikan oleh kedua umat beragama tersebut.
Para pengamat berpendapat, tindakan penjajah Israel menggusur sejumlah gedung dan bangunan milik umat Islam di kawasan al Buraq, sebagai langkah awal membangun kuil Yahudi, sangat mengancam tempat suci umat Islam.

Pengamat masalah al-Quds, Dr Jamal Amru menyatakan, penggusuran bangunan milik umat Islam di areal al Buraq menjadi ancaman besar dan aplikasi nyata keputusan Israel yang menganggap kawasan Masjidil Aqsha bagian tak terpisahkan dari Israel.

Fase ini telah diawali sebelumnya dengan pengosongan semua kawasan bawah tanah di kota tua dan bagian bawah Masjidil Aqsha yang telah berada dalam kendali penuh Israel. Tindakan ini cermin arogansi Israel yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah kemanusiaan.

Fase kedua tercermin pada pembangunan 61 kuil di kawasan sekitar Masjidil Aqsha, dan saat ini Israel tengah bersiap membangun kuil yang ke-62 berdampingan dengan Masjidil Aqsha dari arah bagian barat.

Amru bertanya-tanya, apa manfaatnya membangun kuil sebanyak ini, kemungkinan untuk digunakan oleh semua Yahudi dari penjuru dunia.

Fase ketiga dilakukan penjajah zionis dengan menguasai bangunan milik umat Islam dari jaman Umawiyah dan Abbasiyah dan mengalihkannya menjadi kuil Yahudi.

Fase keempat dilakukan Israel dengan penyiapan sarana kuil, salah satunya sebuah prasasti dari emas murni seberat 45 kg bertuliskan “Kita Akan Membangun Kuil Di Hari-hari Ini”, dipasang di kawasan al-Buraq dari arah barat.

Fase kelima menurut Amru dengan membangun kuil secara fisik dan merilis rincian bangunan yang diusulkan. Pemerintah zionis telah memberikan payung hukum bagi pembangunan ini.

Saat ini Masjidil Aqsha mengalami bahaya terbesar sepanjang sejarahnya, pasukan Israel bersenjata lengkap lalu lalang memasuki halaman al-Aqsha, di samping kelompok Yahudi yang melakukan ritual agama mereka di halaman al-Aqsha.

Umat Islam harus bergerak membela Masjidil Aqsha yang menjadi bagian dari akidahnya, dan jangan membiarkan Israel menghancurkannya untuk diganti dengan kuil Yahudi, seru Amru. 
                              PESTA BAWAH TANAH PANGERAN ARAB SAUDI


Para diplomat AS, dalam kawat diplomatik yang dibocorkan WikiLeaks, menggambarkan dunia seks, narkoba dan rock’n'roll di balik kasalehan formal kerajaan Arab Saudi. 
Para pejabat Konsulat AS di Jeddah menggambarkan sebuah pesta Halloween bawah tanah, yang digelar tahun lalu oleh seorang anggota keluarga kerajaan, yang menabrak semua tabu di negara Islam itu. 
Minuman keras dan para pelacur hadir dalam jumlah berlimpah, demikian menurut bocoran itu, di balik pintu gerbang vila yang dijaga ketat.
Pesta tersebut digelar oleh seorang pangeran kaya dari keluarga besar Al-Thunayan. Para diplomat itu mengatakan identitasnya harus dirahasiakan. 
“Alkohol, meskipun sangat dilarang oleh hukum dan pabean Saudi, sangat berlimpah di bar pesta itu dengan koleksi yang lengkap. Bartender Filipina yang disewa menyajikan koktail sadiqi, sebuah minuman keras buatan lokal,”
“Juga diketahui dari mulut ke mulut bahwa sejumlah tamu (pada pesta itu) pada kenyataan adalah ‘gadis panggilan’, sesuatu yang tidak biasa untuk pesta semacam itu”.
Kiriman informasi dari para diplomat AS itu, ditandatangani oleh konsul AS di Jeddah, Martin Quinn, yang menambahkan,
“Meski tidak menyaksikan langsung peristiwa tersebut, kokain dan hashishsh (ganja) digunakan secara umum dalam lingkungan sosial semacam itu.”
Pesta bawah tanah sedang “berkembang dan berdenyut” di Arab Saudi berkat perlindungan dari kerajaan Saudi, kata kawat itu. Namun pesta semacam itu hanya tersedia di balik pintu tertutup dan untuk orang yang sangat kaya. Terdapat sedikitnya 10.000 pangeran di kerajaan itu. Beberapa masih merupakan keturunan langsung Raja Abdul Aziz, sementara yang lain berasal dari cabang keluarga yang tidak langsung.
Para diplomat yang hadir dalam pesta itu melaporkan, lebih dari 150 pria dan perempuan Saudi, sebagian besar berusia 20-an dan 30-an tahun, hadir dalam pesta tersebut. Perlindungan dari kerajaan berarti kecemasan akan diserga polisi agama menjadi tidak mungkin. Orang-orang yang masuk dikontrol melalui daftar tamu yang ketat.
“Adegannya mirip sebuah klub malam di manapun di luar kerajaan itu: banyak alkohol, pasangan muda yang menari-nari, seorang DJ di turntable dan semua orang berdandan.”
Bocoran itu mengatakan, rak di bar tempat pesta itu menampilkan jenis-jenis minuman keras terkenal.
Para diplomat itu juga mencoba menjelaskan mengapa sang tuan rumah begitu lengket dengan pengawal Nigeria, beberapa di antaranya berjaga-jaga di pintu. 
“Sebagian besar pasukan keamanan sang pangeran adalah laki-laki muda Nigeria. Merupakan praktek yang umum di kalangan para pangeran Saudi untuk tumbuh bersama para pengawal yang disewa dari Nigeria atau negara-negara Afrika lainnya yang berusia muda, (seusia dengan para pangeran itu) dan akan tetap bersama dengan pangeran tersebut hingga dewasa. Waktu bersama yang lama menciptakan ikatan kesetiaan yang intens”
Seorang pemuda Saudi mengatakan kepada diplomat itu bahwa pesta besar merupakan tren baru. Hingga beberapa tahun lalu, katanya, kegiatan akhir pekan hanya berupa “kencan”  dalam kelompok-kelompok kecil yang bertemu di dalam rumah orang kaya. Menurut bocaran itu, beberapa rumah mewah di Jeddah memiliki basement bar, diskotik dan klub.